Madrasah Ramadhan, Model Pendidikan Berkualitas

Oleh: Adnan Mahdi

Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia, karena di dalamnya terdapat ibadah puasa yang sangat besar manfaat dan ganjarannya. Tidak hanya itu, Ramadhan juga memiliki ibadah khas lainnya, seperti shalat tarawih dan witir, tadarus al-Qur’an, serta zakat fitrah yang umumnya dilaksanakan menjelang akhir bulan Ramadhan. Selain itu, banyak lagi aktivitas ibadah atau amaliah-amaliah yang dikhaskan pada bulan Ramadhan, baik pada sisi pelaksanaannya maupun ganjaran yang telah dijanjikan oleh Allah SWT.

Rutinitas ibadah dan amaliah tersebut mirip laiknya sebuah madrasah atau sekolah yang dilaksanakan secara rutin sesuai schedule dan materi yang telah direncanakan. Jika istilah tersebut dibenarkan, maka nama yang akan ditawarkan untuk aktivitas tersebut adalah “Madrasah” Ramadhan. Tujuan utama yang ingin dicapai dari pelaksanaan Madrasah Ramadhan adalah untuk menjadikan sosok pribadi yang muttaqin.

Penisbahan Ramadhan sebagai sebuah madrasah, karena banyak sekali kesamaan dalam pelaksanaannya. Sebagaimana diketahui, bahwa setiap anak yang sudah cukup umur, wajib bagi mereka untuk sekolah. Demikian pula di bulan Ramadhan, setiap muslim yang sudah baligh wajib untuk melaksanakan puasa. Ketika sudah memasuki Madrasah Ramadhan, maka wajib bagi setiap pesertanya untuk mengikuti, mentaati dan melaksanakan tata cara dan aturan yang diberlakukan di dalamnya. Materi yang disajikan selalu sesuai dan bisa menyentuh semua kalangan, mulai dari kelompok anak-anak, remaja, sampai orang tua. Guru-guru (penceramah) yang menyampaikan materi tersebut juga orang-orang yang tidak sembarangan, mereka adalah orang-orang yang sudah diketahui integritas ke‘aliman dan keprofesionalannya. Untuk mengukur hasil pendidikan di Madrasah Ramadhan tersebut, juga dilakukan ujiannya oleh Allah SWT sendiri, sekiranya berhasil maka peringkatnya akan dinaikkan, dan jika tidak, maka derajatnya akan tetap bertahan, bahkan bisa jadi lebih rendah dari sebelumnya.

Penyelenggaraan Madrasah Ramadhan memiliki banyak keunggulan di banding madrasah formal pada umumnya. Buktinya, ketika memasuki bulan Ramadhan, setiap orang yang mengaku muslim, mereka merasa terpanggil dengan sendirinya untuk melaksanakan puasa, tarawih dan witir tanpa merasa terpaksa. Pelaksanaan ibadah tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran dan mereka sadar akan konsekuensinya. Demikian pula dalam pelaksanaan puasa di siang hari, begitu masuk waktu subuh, mereka tidak lagi melakukan hal-hal yang bisa membatalkan puasa, mereka taat dan patuh terhadap aturan itu, dan begitu masuk waktu maghrib, mereka segera berbuka karena mereka tahu betul bahwa waktu tersebut merupakan petanda bahwa puasa mereka harus dibatalkan. Meskipun mereka merasa lelah, lemah, dan ada perasaan malas yang menyelimuti, namun begitu tiba waktu shalat Isya, Tarawih dan Witir, mereka segera melaksanakannya seakan perasaan-perasaan tersebut sirna dan bahkan mereka masih sanggup untuk melakukan tadarusan al-Qur’an hingga larut malam. Saat waktu subuh tiba, walau mata masih terasa kantuk, mereka tetap terbangun untuk melaksanakan shalat Tahajud, sahur, shalat Subuh, dan ada juga yang mendengarkan kuliah subuh hingga terbitnya matahari. Semua aktivitas Madrasah Ramadhan itu dilaksanakan dengan kesadaran, keikhlasan, ketaatan, dan pengharapan tulus yang hanya tertuju pada satu tujuan, yaitu Allah SWT.

Deskripsi di atas menunjukkan sebuah model pendidikan berkualitas yang pelaksanaannya tidak didominasi oleh perintah dan pengawasan yang ketat dari penyelenggaranya, namun semuanya didasari oleh kesadaran dan kebutuhan bagi setiap pesertanya sehingga melahirkan sifat taat, patuh, dan ikhlas dalam melaksanakan peran masing-masing. Model pendidikan seperti inilah yang semestinya diciptakan dan diterapkan di madrasah formal saat ini agar selalu mengutamakan kesadaran yang dimiliki oleh setiap peserta didik dan para penyelenggara serta unsur-unsur yang terkait dengan pendidikan. Sadar yang dimaksud melingkupi seluruh aktivitas yang terkait dengan posisi dan tugas masing-masing, seperti sadar pada kebutuhan belajar dan mengajar, sadar pada posisinya sebagai siswa atau guru, sadar pada tugas dan tanggung jawab yang diemban, dan lain sebagainya. Kesadaran itu juga harus ditopang dengan keikhlasan dalam melaksanakannya sehingga akan melahirkan sikap taat dan patuh tanpa memerlukan perintah dan pengawasan yang berlebihan, dan disinilah sebenarnya core dari model pendidikan berbasis karakter yang sedang hangat dibicarakan saat ini. Wallahu a’lam.

Kesan Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s